Pada keluarga, terletak jalan keselamatan dan sejahtera
Ayah.. lambang pembawa wibawa
Ibu.. sumber hidup, kasih dan cinta
Anak adalah permata kebanggaan segala
Diakhir-akhir ini keluarga tertantang prahara,
Terlanda globalisasi, terserang modernisasi
Terbius konsumerisme
Organ keluarga lupa diri, diburu ambisi, berpacu mendapat gengsi
Ayah, tumpuan anak bini
Mencari rejeki dari pagi ke pagi
Habis waktu, tenagapun pergi
Tiada perhatian, si upik kehilangan kasih
Ibu, berjuang dalam emansipasi
Berkiprah sedahsyat lelaki
Lupa dapur, beras, terasi
Si upik jadi milik bibi
Si Upik, bertanya dalam kesepian dirinya, milik siapakah aku..?
Lelaki yang kusebut Ayah, wanita yang kusebut Ibu
Hanya memberikan lembaran-lembaran ungu uang saku
Tiada waktu, tiada perhatian
Tiada kasih, tiada cerita jenaka, tiada canda tawa bersama
Tiada edukasi peletak pekerti
Hanya bibi, aku milik bibi..?
Upik tumbuh di simpang jalan
Tiada pandu, tiada tempat mengadu
Kasih sejati terganti lembaran-lembaran ungu
Tiada guru, pemberi nilai luhur, budi pekerti
Tetapi, ayah-ibu di kesendirian kerjanya..
Meja ayah terhias botol alkohol, penghalau lesu
Almari ibu terjejal parfum, permata, harta import
Hari-hari bukan lagi hari berbakti
Jadi hari santai berhiaskan ceki
Upik berontak, mencari jalan sendiri
Mencari warna jati diri
Di simpang jalan sana
Ia mencoba permen berasap berapi
Melahap air pahit pening dahi
Menikmati bubuk putih pencipta sorga maya
Walhasil: lupa tutur kata hilang grahita
Tiada pekerti, tiada tata nilai
Kolong jembatan jadi istana asri
Ulah sadis menjadi budaya
Dan, Papa..Mama..
Kehilangan segalanya,
Meski lembaran-lembaran ungunya tak dapat dijadikan senjata..
- Hanya sebuah perenungan semakin bobroknya moral dan budi pekerti
disekeliling kita.. -
Jogjakarta, 00.23 / 24.11.07